RSUD Prabumulih Tak Penuhi Standar

Sriwijaya Post – Kamis, 17 Maret 2011 13:26 WIB

PRABUMULIH – RSUD Prabumulih tidak masuk dalam kategori standar. Selain tidak memiliki persediaan obat-obatan yang cukup, kesalahan prosedur dalam medis kerap terjadi.

Menurut dr Feri, seorang dokter bedah di RSUD Prabumulih, Kamis (18/3), sebuah rumah sakit idealnya harus menyediakan 50-70 jenis benang jahit untuk membantu masyarakat miskin yang masuk dalam Jamkesmas.

Keseluruhan benang itu diperuntukkan bagi seluruh jenis tindakan operasi. Sementara, RSUD hanya mampu menyediakan 7-9 jenis benang saja.

Jumlah itu tidak mencukupi bila dipakai untuk seluruh jenis operasi. Akibatnya, dokter bedah tidak mungkin memaksakan untuk menggunakan suatu benang untuk operasi berbeda.

“Tidak mungkin benang jahit operasi ginjal dipakai untuk menjahit rahim,” katanya.

Setiap benang memiliki penomoran seperti halnya jenis jarum. Saat mengambil tindakan bedah terhadap korban dugaan malpraktik, benang nomor 30 kosong. Benang itu disebut tidak pernah disediakan pihak rumah sakit sejak September 2010.

“Hari itu saya hubungi farmasi untuk menanyakan ketersediaan benang dan ternyata masih kosong,” katanya.

Sebagai dokter bedah, ia tidak berani mengambil tindakan sembarangan dengan menggunakan benang lain untuk menjahit bedahan. Jika terjadi sesuatu pasca operasi akibat kesalahan benang, orang akan menyalahkan dirinya sebagai dokter yang menjahit.

Sebagai dokter profesional ia juga tidak mau mengambil tindakan dengan memindahkan pasien ke rumah sakit lain yang memiliki benang. Harga diri rumah sakit juga dipegangnya bila tidak mampu menjahit bedahan.

Oleh karena tidak ada, ia lalu mengeluarkan resep agar pihak keluarga membelinya di apotik. Feri mengaku tidak mempunyai relasi apapun dengan pihak apotik untuk mendapat keuntungan.

“Ini penyelamatan nyawa. Penyelamatan organ tubuh manusia. Saya tidak berjualan benang. Yang namanya jualan artinya saya bawa benang lalu pasien mengeluarkan uang membeli,” katanya.

Sementara pernyataan Direktur RSUD Prabumulih yang menyebutnya sebagai penjahat kambuhan ditolaknya mentah-mentah.

Ia mengaku akan melakukan tuntutan terhadap Direktur RSUD Prabumulih karena menghinanya.“Belum ada yang menangkap saya sebagai penjahat,” katanya.

Terkait hal itu, bersama dr Syafri yang menjadi koordinator aksi demo beberapa waktu lalu dan puluhan petugas medis, mereka mendatangi Pemkot Prabumulih guna menagih janji walikota terkait tuntutan mundur Direktur RSUD.

Mereka hanya ditemui Sekda, H Nila Utama, Asisten III, Djoharuddin Aini dan Kadinkes, Iwan Hasibuan.

Mereka menilai, pernyataan direktur di media massa tidak melindungi bawahan melainkan merusak citra dan profesi mereka.

Sementara itu, akibat pernyataan Direkur RSUD tersebut, petugas medis dr Syafri menegaskan, tuntutan mundur terhadap Direktur RSUD bukan karena adanya dugaan korupsi yang dilakukannya melainkan sikap dan perilakunya sebagai pemimpin.

Ali Indra Hanafiah disebut sebagai pemimpin arogan dan tidak pernah berpikir untuk menyejahterakan para karyawannya. “Bagaimana kami bekerja kondusif bila pemimpinnya tidak kami senangi,” katanya.
Malahan, para bawahan diadu domba bukannya dibela. Hal itu dilakukan atas unsur sakit hati. Pernyataan direktur RSUD terkait kesalahan prosedur dalam tindakan medis terhadap salah satu pasien Jamkesmas menunjukkan jika ia sakit hati terhadap aksi demo para bawahannya beberapa waktu lalu.

Selain pernyataan, sikap Ali Indra usai aksi demo juga berubah. Karyawan RSUD yang ikut dalam demo dihambat dalam urusan baik administrasi maupun hal yang terkait dengan pelayanan rumah sakit. “Seharusnya pemimpin yang baik legowo menerima kritik dari bawahannya,” ujarnya. (cr2)

Tak Ditemukan Penyelewengan
WALIKOTA Prabumulih, Rachman Djalili mengatakan, dari hasil pemeriksaan Inspektorat Prabumulih tidak ditemukan penyelewengan keuangan yang dilakukan Direktur RSUD Prabumulih. Hal itu terlihat dari kas RSUD yang mengendap sebesar Rp 5 miliar.

Apabila tuntutan para pendemo dipenuhi Rachman meragukan kepemimpinan penggantinya nanti. Apalagi RSUD Prabumulih saat ini tengah merintis menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Masih banyak yang harus dikerjakan. Maka saya harus pikir dulu,” ujarnya.

Jika pergantian dilakukan karena aksi demo maka akan banyak pejabat yang ia ganti untuk memenuhi tuntutan para pendemo. “Habis saya mecat orang terus setiap hari,” ujarnya sembari memberi sinyal jika Direktur RSUD Prabumulih bakal dipertahankan.

Direktur RSUD, Ali Indra Hanafiah sendiri terkait hal itu mengaku akan segera mengundurkan diri. Aksi pengunduran dirinya akan dibarengi dengan masuknya usia pensiunnya nanti. “Setelah pensiun saya mau istirahat. Mau bekebon, “ ujarnya. (cr2)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s