Prabumulih Kota Premanisme

By : Juni Fajar Hasan*

Prabumulih, surga bagi premanisme. Disebut demikian karena tiap denyut kehidupan, baik sektor ekonomi, maupun sektor politik sudah dikuasi pereman.Kita bisa menyaksikan dan membuktikannya dari fenomena menjamurnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang visi dan misinya tidak dimengerti oleh khalayak luas. Patut diduga, kemunculan sebagian LSM-LSM tersebut didirikan bukan untuk kepentingan masyarakat umum. Tapi dikhawatirkan hanya menjadi alat untuk kepentingan pribadi atau kelompok atau segelintir pribadi di tubuh LSM tersebut.

Dugaan itu muncul jika kita menengok sebagian LSM di Prabumulih ternyata dibentuk, dibangun, didirikan oleh orang-orang yang condite-nya sangat diragukan. Dengan kata lain para pengurusnya banyak yang berjiwa premanisme. Dari kondisi tersebut, rasanya bukan isapan jempol banyak pengatasnamaan LSM tertentu dengan tujuan memenuhi kebutuhan pribadi.

Beberapa LSM tersebut terlihat mengambil peran sebagai broker [calo] alias nguloh proyek Pemerintah Kota (Pemkot). Ada yang menjadi tameng pejabat tertentu atau mengerjakan proyek dukung-mendukung terhadap pejabat tertentu di Prabumulih. Yang sangat menyedihkan, banyak proyek pemkot Prabumulih hanya dibagikan kepada mereka yang hanya mencari keuntungan. Hasilnya, tentu saja parah. Proyek tersebut tidak sesuai bestek.

Salah satu contoh adalah proyek rehabilitasi jalan Bangau di Kelurahan Karang Raja. Saya menyaksikan bagaimana para “preman proyek” yang notabene para pengurus LSM tertentu, berkumpul, kongkow- kongkow di pelataran perkantoran pemkot. Suatu kali saya sempat bertanya, ada apa gerangan? Dengan santai mereka menjawab hendak menemui pejabat tertentu di lingkungan pemkot. Ketika saya bertanya mengenai tujuan mereka, ternyata keperlua mereka adalah menyangkut proyek. Tanpa tendensi negatif, saya mencoba mulai menelusuri perihal proyek yang mereka maksudkan. Ya, ampun! Ternyata sebagian proyek pemkot konon bisa dibagikan kepada mereka, orang-orang yang menurut saya conditenya patut diragukan. Dan lebih miris lagi, poyek itu diberikan tanpa proses lelang, tanpa ditender. Alias PL (Penunjukan langsung).

Apakah memang demikian aturannya? Bagaimana bisa premanisme menjadi sepertinya telah mengusai pemerintahan kota? Sudah dapat ditebak bahwa ada kesepakatan, ada deal yang dibangun, ada konsesi diantara kedua belah pihak. Dan sudah pasti dea tersebut menguntungkian bagi preman proyek maupun pejabat tertentu di pemkot Prabumulih.

Premanisme berkedok LSM belakangan ini menjadi lahan subur untuk mencari uang tanpa harus banting tulang dan peras keringat.  Hanya bermodal stempel pemerintah setempat, mereka bisa meraup keuntungan puluhan bahkan ratusan juta. Ini mengkhawatirkan, praktek ini bisa berlangsung tanpa kontrol, atau memang aparatur pemerintah menginginkan kondisi seperti ini, untuk beberapa keuntungan. Keuntungan langsung misalnya pembagian komisi keuntungan. Keuntungan jangka panjang adalah kelanggengan jabatan, dengan memanfaatkan pihak preman proyek sebagai tameng alias… kujur penumbak babi.

Premanisme, sebuah kata pendek, tapi jika diuraikan amatlah panjang.  Saya pernah mendengar sinyalemen yang dilontarkan seseorang, yang sebagian masyarakat Prabumulih menganggapnya sang “God Father”. Menurutnya, bahwa di Prabumulih tidak akan ada demonstrasi pengerahan massa tanpa komando darinya. Klaim yang ironis dan miris. Seakan masyarakat Prabumulih berada di bawah kendali ketiaknya. Apa memang badannya sudah tahan dengan apapun, sampai semua orang dipandangnya “kecil”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s