Dampak Krisis Politik Mesir Bagi China

Ditulis oleh Xia Xiaoqiang

Senin, 07 Februari 2011

Pada 4 Februari 2011, Tahrir Square dikemas untuk demonstrasi pembaharuan yang menyerukan Mubarak segera meletakkan kekuasaannya. (Foto oleh Peter MacDiarmid/Getty Images)

Orang-orang bertanya-tanya mengapa orang China tidak bisa melakukan apa yang dilakukan orang-orang Arab.

“Revolusi Melati”, sebuah pemberontakan populer di Tunisia yang menggulingkan mantan rezim diktator Ben Ali pada bulan Januari, telah menyebabkan efek riak di banyak negara Arab. Orang-orang di Mesir, Yaman, Aljazair, Yordania, dan di tempat lain telah dibawa ke jalan-jalan untuk memprotes kekuasaan politik, korupsi pemerintah, pengangguran yang tinggi, dan menuntut perubahan.

Selama dua minggu terakhir, meski kehadiran polisi secara besar-besaran dan peringatan pemerintah terhadap demonstrasi itu, setiap hari ribuan orang Mesir telah membanjiri jalan-jalan di Kairo, Suez, dan Alexandria. Terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia, mereka juga menuntut reformasi politik dan menyerukan Presiden Mubarak untuk meninggalkan negara itu.

Dampak dari kerusuhan sosial di Mesir, yang mengancam rezim Mubarak, jauh lebih besar dibandingkan dengan Tunisia. Daerah Mesir yang luas dan kekuatan militer membuatnya memainkan peranan penting di dunia Arab. Mesir juga merupakan sekutu utama AS di Timur Tengah, dan merupakan penerima bantuan militer AS kedua terbesar, setelah Israel. Oleh karena itu, perkembangan di Mesir memainkan peran demonstratif di Timur Tengah, dan pengaruh mereka juah melampaui Timur Tengah.

Mengikuti pemberontakan Mesir, ratusan ribu demonstran anti pemerintah membanjiri jalanan di kota-kota di Yaman pada 2 dan 3 Februari, meneriakkan “Tidak pada korupsi, tidak pada kediktatoran!” dan menuntut diakhirinya cengkraman kekuasaan 32 tahun Presiden Saleh.

Di kelompok oposisi Suriah mengatakan mereka juga merencanakan “Hari Kemurkaan” mereka sendiri untuk memprotes aturan kediktatoran Presiden Bashar al-Assad.

Bagaimana Dengan China?

Di sisi lain dunia, para pemakai internet di China, walaupun dengan sensor media, sangat menaruh perhatian dengan apa yang sedang terjadi di Mesir. Mereka tertarik dengan dampak dari semua ini yang bisa saja terjadi di China.

Pada 29 Januari, kata “Mesir” dan “Kairo” diblokir di semua microblogg besar seperti Tencent, 163, dan Sohu, tetapi tidak di Sina. Rezim komunis China tidak ingin orang-orang China menyaksikan demostrasi populer besar-besaran melawan kediktatoran di satu negara ke negara lain. Ia tidak ingin orang-orang China mendapatkan ide itu.

Media utama China telah sangat hati-hati dengan laporan tentang protes Mesir. Laporan Xinhua menghindar untuk menyebutkan berita terbaru protes publik itu. Ia tidak melaporkan tuntutan rakyat Mesir akan kemunduran presiden, juga tidak menyebutkan interaksi persahabatan antara para prajurit di dalam tank dengan para pengunjuk rasa di jalan-jalan Kairo.

Menurut situs tidak resmi, Dewan Negara Kantor Informasi dan Kementerian Keamanan Publik bersama-sama mengeluarkan pemberitahuan yang mengharuskan semua media untuk hanya menggunakan laporan Xinhua dan tidak menggunakan terjemahan dari laporan asing. Pemberitahuan itu juga memerintahkan semua website untuk “memperkuat managemen” forum dan blog mereka, terutama microblog. Pelanggaran terhadap perintah itu akan mengakibatkan penutupan situs.

Adalah Departemen Propaganda Pusat partai komunis yang mengendalikan media China. Apa yang mereka takutkan?

Sebuah laporan The Epoch Times pada 20 Januari menunjukkan banyak kesamaan antara masyarakat Tunisia dan China, seperti perbedaan besar antara kaya dan miskin, naiknya harga pangan, pengangguran tinggi, korupsi pemerintah, kediktatoran yang mengakar, dan gejolak sosial yang serius.

Sebenarnya, semua negara-negara Arab yang mempunyai kondisi yang sama akan mengalami pemberontakan. Artikel itu juga mengutip perkataan beberapa ahli yang berpikir bahwa kemungkinan terjadi hal yang sama di China.

Ketika sebuah negara, terutama negara kediktatoran totaliter, menghadapi protes publik besar yang dapat menyebabkan perubahan politik besar, militer sering memainkan peranan penting dalam hasil akhir.

Mari kita lihat apa yang telah dipilih orang militer Mesir. Militer Mesir pada 31 Januari berjanji tidak akan menembak ke para demonstran damai tersebut. Bahkan, para prajurit yang memasuki Kairo telah berdiri di sisi rakyat sebelum militer mengeluarkan pernyataan resmi.

Seorang wartawan AssociatedPress di lokasi mengatakan seorang perwira polisi yang telah melepas seragamnya untuk bergabung dengan para pemrotes, digotong dan dielu-elukan di atas bahu para demonstran sambil bersorak sorai. Ini adalah adegan yang mengesankan yang tidak terlihat di Mesir selama 30 tahun.

Jika tentara China dapat melihat apa yang terjadi di Mesir, mereka pasti akan terkejut dan terpengaruh olehnya. Hasilnya, mereka sangat mungkin juga memilih untuk mengesampingkan senjata mereka jauh-jauh dari orang-orang China, dan dengan demikian Partai Komunis China (PKC) akan kehilangan kontrol terhadap militer. Hal ini juga akan mengakhiri sejarah kekejaman PKC terhadap orang-orang China. Militer China mungkin berubah dari melindungi PKC ke membela tanah air dan rakyat.

Pihak berwenang China telah melakukan segala upaya untuk mengecilkan dan menghapus memori orang-orang akan Pembantaian Tiananmen 1989. Pada saat yang sama, mereka terus menerus memperdalam ketakutan orang-orang terhadap rezim melalui penggunaan teror dan peluru dalam konflik lokal.

Namun, perkembangan pesat Internet dan software anti penyaringan yang dikembangkan di luar negeri telah banyak dan banyak membantu orang China untuk mendapatkan informasi yang tidak disensor. Penindasan terhadap harapan akan kebebasan juga telah menjadi lebih dan lebih kuat.

Dalam sebuah komentar 1 Februari yang disebut “Pencarian Martabat,” oleh David Brooks dari New York Times (NYT) mengatakan tentang tren besar dan peningkatan yang mulai melanda seluruh dunia sekitar 50 tahun yang lalu, dengan orang-orang yang memiliki harapan yang berbeda tentang bagaimana mereka harus diperlakukan, dan “mereka mulai berbaris ke pemerintah yang responsif dan demokrasi.”

“Lebih dari 100 negara telah menyaksikan pemberontakan demokrasi selama beberapa dekade terakhir. Lebih dari 85 pemerintahan otoriter telah jatuh. Di sekitar 62 negara telah menjadi demokrasi, yang didefinisikan secara longgar,” kata artikel NYT itu.

Ia juga mengatakan bahwa pengalaman telah mengajarkan kita beberapa pelajaran, salah satunya adalah bahwa “otokrasi lebih rentan daripada bentuk lain pemerintahan, sejauh ini… [dan] untuk semua pesimisme dan ketakutan akan perubahan yang menyertainya, sebagian besar negara yang mengalami pemberontakan berakhir lebih baik.”

Jika setiap orang China membuang ketakutannya, “Revolusi Melati” ini bisa mengantarkan “Musim Semi Baru” bagi China.

Read the original Chinese article.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s