Krisis Libya dan Harga Minyak

KRISIS Libya berlanjut. Atas mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melindungi warga sipil,kekuatan sekutu yang terdiri atas Prancis, Italia, Spanyol, Inggris,Amerika Serikat, dan Norwegia menyerang Libya.

Serangan yang banyak dikecam lantaran menimbulkan korban warga sipil ini telah memperburuk persepsi atau psikologi pasar terhadap risiko kekurangan suplai minyak. Ini mendorong harga minyak kembali naik. Harga minyak jenis Brent naik dari sekitar USD113 per barel pada Sabtu (19/3/2011) menjadi sekitar USD117 per barel pada Senin (21/3/2011). Pembentukan harga minyak dunia sangat sensitif terhadap faktor geopolitik yang berupa krisis atau kekacauan politik keamanan yang menimpa negara dan kawasan produsen minyak.Tak terkecuali Libya. Dilihat dari sisi kandungan kekayaan alam migas, Libya merupakan negara yang relatif sangat kaya.

Wajar kalau berbagai pihak mulai mencurigai ada semacam hidden agenda dari serangan koalisi tersebut.Selain untuk melindungi warga sipil dari pembantaian pengikut Pemimpin Libya Muammar Khadafi, bukan tidak mungkin juga terselip maksud untuk suatu saat bisa ‘mengontrol’ migas Libya. ‘Mengontrol’ di sini tidak mesti berarti ‘menguasai dan memiliki’cadangan migas Libya secara langsung,tapi bisa dalam bentuk mendorong terbentuknya pemerintahan di Libya yang bisa ‘mengikuti’ kepentingan negara-negara tersebut. Dari sisi energy security, negara-negara seperti Italia, Spanyol, dan Prancis merupakan negara-negara dengan cadangan migas di perut bumi sangat minim.

Mereka tentu membutuhkan semacam jaminan jangka panjang bahwa minyak Libya tidak akan ‘dibelokkan’ ke negara lain,misalnya ke China atau India yang juga sangat haus terhadap jaminan suplai jangka panjang. Saat ini China dan India sudah masuk ke Libya melalui BUMN migas mereka. Lantaran lonjakan kebutuhan energi yang sangat besar,terutama China,terjadi persaingan yang ketat dalam ‘merebut’ sumber-sumber energi dunia, terutama migas.Saat ini BUMN migas China sudah merambah melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di sekitar 70 negara di dunia, termasuk Libya. Menurut BP Statistics 2010, Libya memiliki kekayaan alam berupa cadangan terbukti (proven reserves) minyak mentah yang relatif sangat besar.

Cadangan minyak Libya sekitar 44 miliar barel dengan produksi sekitar 1,7 juta barel per hari. Reserves to production ratio (R/P Ratio) menjadi sekitar 71. Ini berarti jika seandainya Libya tidak menemukan cadangan baru, cadangan minyak Libya baru habis sekitar 71 tahun lagi! Dengan harga minyak USD100 per barel, nilai kekayaan/ aset minyak Libya sekitar USD4.400 miliar. Sedangkan kekayaan cadangan gas Libya sekitar 54 trillion cubic feet (tcf) dengan nilai sekitar USD500 miliar.Dengan begitu, nilai kekayaan/aset cadangan migas Libya menjadi sekitar USD4.900 miliar.

Ini tentu jumlah yang luar biasa yang bisa membuat negara lain terpancing melirik migas Libya. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki cadangan terbukti minyak sekitar 4 miliar barel, R/P Ratio 12 tahun, dengan nilai cadangan/ aset minyak sekitar USD400 miliar. Cadangan gas 113 tcf senilai USD1.000 miliar.Total nilai aset/cadangan migas Indonesia menjadi sekitar USD1.400 miliar. Meskipun lebih kecil dari nilai aset migas Libya,nilai aset migas Indonesia akan bisa memberikan manfaat yang optimal bagi rakyat apabila status pengelolaan dan kepemilikannya (ownership) jelas secara hukum sehingga bisa dimonetasi. Seyogyanya, masalah pengelolaan dan status kepemilikan aset/cadangan terbukti migas ini harus diperjelas di dalam Undang-Undang (UU) Migas yang saat ini sedang direvisi di DPR.

Masalahnya, dengan semakin meningkatnya kebutuhan energi, khususnya minyak, tidak dapat dihindari bahwa tren harga minyak ke depan akan terus meningkat. Migas merupakan sumber energi yang tidak bisa diperbaharui dan sangat strategis. Dengan krisis Libya saat ini, ada sekitar 1,2 juta barel per hari produksi minyak Libya hilang dari pasar. Jika krisis Libya terus berlanjut, pasar minyak dunia terancam kekurangan suplai secara permanen. Meskipun Arab Saudi sudah menyanggupi untuk mengganti kekurangan suplai dari Libya,pasar sulit untuk diyakinkan sepenuhnya sehingga harga masih bertengger di atas USD100 per barel. Padahal sebelum krisis, pada November 2010 harga minyak masih sekitar USD80 per barel.

Apalagi kalau krisis yang saat ini melanda Libya,Yaman, Bahrain, dan Suriah kemudian menjalar ke Arab Saudi.Tentu harga minyak dunia akan jauh melejit yang bisa memunculkan krisis minyak/krisis energi yang sangat dahsyat mengingat Arab Saudi merupakan negara pengekspor minyak terbesar di dunia. Dengan gejolak politik yang terjadi di Kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah saat ini,risiko harga minyak yang tinggi akan terus membayangi perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Lantaran produksi minyak yang sangat rendah, hanya sekitar 900.000 barel per hari,padahal pada 1999 masih sekitar 1,5 juta barel per hari, sementara kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri terus naik, tak ayal lagi bahwa kenaikan harga minyak dunia ternyata memberikan dampak negatif terhadap APBN dan terhadap perekonomian nasional.

Karena produksi minyak yang sangat rendah,setiap kali terjadi kenaikan harga minyak dunia akan berdampak pada penambahan defisit APBN. Dengan kebijakan pemerintah yang cenderung melakukan ‘pembiaran’ atau ‘do nothing’ saat ini, di mana pemerintah sudah menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM sementara rencana pembatasan BBM juga dibiarkan ngambang, prospek industri migas dan perekonomian nasional ke depan semakin diliputi oleh ketidakpastian (uncertainty). Padahal masalah yang dihadapi sangat jelas.

Masalah produksi minyak yang rendah adalah karena salah kelola. Ini diperbaiki dengan segera mengganti UU Migas lantaran undang-undang ini telah menyebabkan posisi investasi migas di Indonesia menjadi salah satu yang terburuk di dunia (Global Petroleum Survey 2010, Fraser Institute Canada). Dalam jangka pendek, produksi Blok Cepu punya peluang untuk dinaikkan secara signifikan. Ini butuh koordinasi dan kerja keras pihak-pihak terkait. Sementara masalah manajemen dan pricing BBM mestinya tidak dipecahkan dengan menggiring rakyat untuk pindah dari minyak (premium) ke minyak (pertamax) seperti yang diwacanakan selama ini, tetapi dengan diversifikasi ke nonminyak seperti ke gas (BBG) dengan mempercepat pembangunan infrastruktur.

Jika dirasa mendesak, solusi yang baku adalah dengan menaikkan harga BBM dalam besaran yang wajar misalnya naik sekitar Rp1.000 per liter, disertai dengan janji ke rakyat bahwa dana penghematan subsidi tersebut akan dipakai untuk membangun infrastruktur transportasi.

DR KURTUBI
Pengajar Pascasarjana Fakultas Ekonomi UI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s