PSSI vs LPI : Adakah Ancaman Hilangnya “Periuk Nasi”

Oleh Bambang Iss

KOTA Solo bakal menjadi perhatian para pecandu bola nasional. Kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) bakal digelar di kota itu, Sabtu (8/1/ 2011). Namun kondisinya juga masih menggantung terkait dengan belum adanya rekomendasi dari PSSI sebagai induk persepakbolaan nasional untuk menyatakan legalitas LPI.

Jangankan dengan rekomendasi, polemik pun antara pihak-pihak yang berkompeten sampai kini masih belum berakhir. Desakan orang agar Menpora Andi Malarangeng, sebagai wakil dari pemerintah untuk ikut intervensi (secara positif, red) guna mengurai benang kusut polemik ini sangat diharapkan.

Namun sampai hari Rabu (5/1) Andi Malarangeng belum berhasil mempertemukan Nurdin Halid (PSSI) dengan Arifin Panigoro (LPI) untuk duduk dalam satu meja, mencari titik temu. “Kita kan baru saja merasakan adanya rasa persatuan setelah piala AFF. Tapi ada persolan lagi. Saya ingin Nurdin dan Pak Arifin duduk bersama untuk mencari duduk persoalan. LPI ini digelar berusaha agar ada turnamen yang lebih sehat. Semakin banyak turnamen dan kompetisi itu bisa mengembangkan olahraga nasional,” kata Andi Malarangeng.

LPI adalah kompetisi independen yang digagas pengusaha dan maecenas musik (jazz) Arifin Panigoro untuk keluar dari mekanisme yang salah dan sistem pendanaan yang selama ini masih tergantung pada biaya pemerintah. Dengan LPI maka akan ada pihak lain yang membiayai kemajuan sepakbola dan mengurangi ketergantungan. “Jadi PSSI mestinya harus berterimakasih, dong. LPI memberikan opsi untuk mencari uang sendiri bukan dari APBD. Terlebih lagi jika melihat sistem kompetisi selama ini yang amburadul, misalnya ada wasit yang diremote agar bisa mengatur pertandingan,” kata IGK Manila, mantan manajer timnas.

Namun yang terjadi, kelahiran LPI dianggap oleh PSSI sebagai kompetisi ilegal. Padahal hampir semua elemen masyarakat, terutama para pemikir dunia olah raga menilai, LPI ini digelar dalam rangka mewujudkan kompetisi profesional dan mandiri. Terlebih untuk membuat lebih baik carut marut iklim persepakbolaan Indonesia, menyusul kalahnya timnas di Piala AFF minggu lalu.

“Periuk nasi”

LPI sebenarnya digagas untuk mencari kompetisi yang bermutu. Namun hal ini dianggap oleh awak PSSI sebagai langkah yang ilegal. Bahkan, PSSI sempat mengancam para pemain, wasit, atau hakim garis jika ikut LPI akan dicoret dari timnas. Dan bahkan pemain yang belum ikut klub di PSSI tidak akan bisa masuk skuad timnas yang akan disiapkan untuk kompetisi di tingkat asia seperti Sea Games, Asian Games atau bahkan tingkat dunia.

Banyak orang yang berkompeten di dunia sepakbola menilai seharusnya PSSI harus berlapang dada, jika ada yang mengadakan liga seperti itu, karena untuk memajukan sepakbola dan tak ada tujuan persaingan. “Munculnya LPI ini juga adanya dorongan masyarakat. Jadi PSSI agar lebih terbuka dengan pihak-pihak lain yang ingin memajukan persepakbolaan Indonesia, mestinya PSSI harus berlapang dada dan mengucapkan selamat datang pada LPI,” tambah IGK Manila.

Karena Manila, ketika LPI mau lahir sebagai solusi, seharusnya PSSI harus bercermin, ada apa dengan muka saya ini?,” ucapnya.

Kalau ada ide bagus yang seharusnya meringankan PSSI, tapi PSSI mengangap bakal menjatuhkan PSSI. Jadi kemungkinan apakah ini ada semacam ancaman hilangnya “periuk nasi?” seperti yang telah diperkirakan banyak orang?,” tambahnya. IGK Manila benar. “Ibaratnya kita memilih nasi padang. warung nasi padang itu kan banyak, tinggal pilih mana saja yang paling enak. Ada banyak kompetisi kan malah menjadi semakin memacu para pemain Indonesia?, ”  Kata dia.

Persoalan ini tak urung membuat sejumlah anggota DPR-RI berkomentar. Kata mereka, seharusnya PSSI bercermin dulu, introspeksi dan mendesak mestinya ini pemerintah harus turun tangan. Menpora harus tegas untuk menyelesaikan masakah ini, kalau perlu intervensi. LPI ini adalah kontribusi warga Indonesia untuk memajukan sepakbola Indonesia.

Masuknya Irfan Badhim ke Persema Malang, adakah profesional pemain seperti dia tidak akan mau dipusingkan dengan persoalan organisasi.

Klub-klub sudah ada di Indonesia tentu akan memilih yang bagus dan nyaman. LPI, LSI atau galatama. Jadi  keberadaanya mekanismenmya masyarakat yang akan menilai. “Masak orang mau ikut LPI lantas tak diancam tidak akan bisa ikut timnas, itu sama artinya dengan menggali kuburannya sendiri,” kata IGK Manila seperti yang dilansir Pro I RRI Rabu, (5/1). “Jadi Ini sama sekali bukan untuk mendongkel Nurdin Halid. tapi untuk kemajuan dan bentuk keprihatinan terhadap kondisi persepakbolaan Indonesia.

Saat sudah cukup banyak klub yang akan berlaga di LPI. Satu diantaranya adalah Persema Malang yang akan menurunkan Irfan Bahdim dan Kim Jeffrey Kurniawan, dua pemain naturalisasi yang diperkirakan akan menjadi magnet liga ini.

Tak berlebihan, Anjasmara mantan pemain timnas Indonesia tahun 70an pun berteriak, “Ayo. hentikan ribut-ribut ini. Bangkitkan sepakbola kita, mumpung atmosfer sepakbola Indonesia sedang bagus. Saya harap PSSI jangan “kebakaran jenggot”, PSSI itu milik bangsa bukan milik segelintir pengurus, jangan ributkan dengan LPI, LSI atau apalah itu,” ini kata Anjasmara.

 

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/bicara_fakta/2011/01/05/19/PSSI-vs-LPI-Adakah-Ancaman-Hilangnya-Periuk-Nasi

>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s